Saya Ellen. Saya putri keturunan asli Papua. Nenek dan orangtua saya sejak dulu hingga sekarang juga masih menetap di Papua. Kata nenek, daerah tempat tinggal kami di Timika sudah banyak berubah. Terutama sejak dibukanya tambang tembaga dan emas di bawah perusahaan asing bernama PT Freeport Indonesia.

Mendengar kata Freeport, pasti kalian langsung membayangkan sebuah tambang besar berbentuk kawah raksasa yang mengerucut menuju perut bumi Papua, jika dilihat dari atas ketinggian beberapa ribu meter di atas permukaan laut. Hasil tambang berupa bijih mengandung tembaga dan emas yang akan diproses lebih lanjut, diangkut menggunakan truk yang sangat besar. Berjalan perlahan menuju tempat pengolahan hingga dihasilkan emas yang siap diekspor ke seluruh dunia.

Sekilas Tentang Freeport di Papua

Saya ingin sedikit bercerita tentang sejarah Freeport yang masuk ke Papua berdasarkan info yang pernah saya baca dan cerita nenek sejak saya kecil dulu.

Pada tahun 1936, Jean Jacques Dozy, Anton Colijn, dan Frits Julius Wissel melakukan ekspedisi Cartenz menjelajah wilayah Papua hingga ke Gunung Jaya Wijaya untuk membuktikan adanya gletser atau salju di khatulistiwa. Rombongan ini menemukan Ertsberg yang tak lain adalah gunung bijih yang kaya akan kandungan tembaga dan emas.

Hasil ekspedisi ini dilanjutkan pada tahun 1963 oleh PT Freeport di bawah komando Forbes de Wilson dan Del Flint untuk menggali hasil penemuan Dozy dkk. Dari hasil penemuan ini, Freeport berhasil melakukan penandatanganan Kontrak Karya I (KK I) dengan Pemerintah Indonesia untuk operasi dalam jangka waktu 30 tahun.

Pada tahun 1980, Freeport bergabung dengan perusahaan McMoran yang membuatnya berganti nama menjadi Freeport Mcmoran dengan Freeport Indonesia sebagai anak perusahaan.

Dengan usaha meningkatkan eksplorasi, perusahaan menemukan besarnya kandungan emas di bukit lain di dekat Ertsberg, yaitu Bukit Grasberg dan memulai eksploitasi pada tahun 1988. Tiga tahun setelahnya, Freeport memperoleh perpanjangan Kontrak Karya II selama 30 tahun ke depan.

Betapa kayanya ternyata tanah Papua yang saya tinggali. Pegunungan dan perbukitan berwarna hitam, ternyata menyimpan sejuta kekayaan mineral alam yang sangat berharga.

Pada tahun 2019 Pemerintah mengakhiri kontrak kerjasama operasi penambangan di bumi Papua dengan perusahaan ini dan menyatakan kepemilikan saham sebesar 51% dibawah Manajemen PT MIND ID yang merupakan BUMN Holding Pertambangan Indonesia.

Freeport Mengubah Papua

Masyarakat Papua dulunya dianggap masih cukup tertinggal dari daerah lainnya. Sebelum Freeport masuk ke Indonesia tahun 1967, wilayah Timika di Papua hanyalah hutan belantara.

Sumber Gambar : detikfinance.com
Kata nenek, sejak adanya pembukaan lahan tambang di bawah kontrak kerjasama Pemerintah dan Freeport, Pemerintah saat itu berharap akan terwujud masyarakat Papua yang lebih maju karena tidak lagi hidup di hutan pedalaman yang jauh dari akses pendidikan, pembangunan infrastruktur dan perkembangan ekonomi.

Sejak awal dibukanya penambangan di daerah ini, Freeport mulai membangun berbagai infrastruktur yang diperlukan untuk menunjang aktivitas pertambangan. Freeport juga bekerjasama dengan pemuka masyarakat suku di sekitar perbukitan Ertsberg dan Grasberg dalam rangka peningkatan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat.

Oiya, masyarakat Papua sangat menghormati tanah adat. Di sekitar kawasan Freeport sendiri ada tujuh suku yang hidup dan bermukim. Wilayah yang banyak digunakan untuk lahan tambang Freeport adalah tanah ulayat suku Amungme dan Kamoro. 

Atas hal inilah, manajemen Freeport melakukan kerjasama dengan organisasi masyarakat yang bernama Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamaro (LPMAK). LPMAK dikelola oleh sebuah Badan Pengurus dan Badan Musyawarah yang terdiri dari pemerintah lokal, para tokoh Papua, pemimpin lokal masyarakat Amungme dan Kamaro, serta PT Freeport sendiri.

1. Kontribusi Ekonomi

Berdasarkan Laporan Lembar Fakta Inalum, sejak tahun 1992 hingga 2017 Freeport telah memberikan kontribusi kepada negara sebesar US$17,3 miliar dalam bentuk pajak, royalti, dividen dan berbagai pungutan lainnya.

Nilai ini menjadikan Freeport sebagai salah satu penyumbang terbesar pendapatan negara dari sektor pertambangan untuk digunakan Pemerintah dalam pembangunan negara. Sayangnya, kata nenek sebagian besar sumbangan pajak tersebut digunakan untuk pembangunan daerah di luar daerah kami. Semoga ke depan Pemerintah dapat lebih membangun daerah Papua sendiri.


2. Kontribusi Masyarakat

Selain kontribusi ekonomi, katanya Freeport juga berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan pembangunan masyarakat sekitar pertambangan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.
Banyak tenaga kerja lokal yang bekerja di pertambangan ini. Dari data yang diperoleh, sebanyak 27% atau sekitar 30.000 masyarakat lokal bekerja di PT Freeport Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa Freeport telah memberikan sumbangsih untuk negeri berupa lapangan kerja yang cukup besar dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya.
Berikut kontribusi Freeport untuk masyarakat.

Peningkatan Kapasitas Masyarakat

Pendidikan dan Pelatihan
Terbatasnya akses dan fasilitas pendidikan di daerah Timika dan Mimika menjadikan rendahnya capaian angka partisipasi sekolah anak Papua. Banyak orang asli Papua yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan. 

Sekolah Asrama Taruna


Dalam hal ini, Freeport dan LPMAK memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada putra-putri daerah Papua untuk memperoleh pendidikan yang layak. Banyak beasiswa yang telah diberikan mulai dari tingkat SD sampai S3, sekolah asrama yang dibangun untuk memfasilitasi siswa dari pedalaman dan institut pertambangan untuk melatih putra putri Papua agar dapat menjadi pekerja tambang yang cukup bersaing.

Kakak saya adalah salah satu penerima beasiswa dan sedang kuliah di Universitas Indonesia. Kelak saya ingin seperti kakak dan bisa sampai kuliah ke luar negeri.

Pemberdayaan Perempuan

Ibu-ibu di sekitar lingkungan saya sekarang dapat meningkatkan kemampuan untuk berwirausaha juga lho. Banyak pelatihan yang diselenggarakan oleh Freeport seperti menjahit, mengolah makanan dan mengelola keuangan keluarga.


Pengembangan Ekonomi Masyarakat Berkelanjutan

Freeport dan LPMAK berusaha untuk mengembangkan ekonomi masyarakat dengan melakukan Program Pembinaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (PP-UMKM) dan Dana Bergulir.
Pembinaan dan pendampingan dilakukan untuk pengusaha-pengusaha Papua yang berpotensi.
Dalam hal ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian lokal yang mandiri dan berkelanjutan agar dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua.

Desa-desa di Papua yang berpotensi memiliki kekayaan alam pertanian pun didukung dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki. Misalnya saja, perkebunan kopi di Amungme, peternakan, pertanian dan ketahanan pangan dengan membantu mengelola kebun sagu di kampung Nayaro.

Budidaya kopi Amungme


Program Kesehatan

Masyarakat kami banyak diajarkan pola hidup sehat. Freeport membantu memberikan fasilitas kesehatan dengan mendirikan Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) di dataran rendah dan Rumah Sakit Waa Banti (RSWB) di dataran Tinggi untuk membantu meningkatkan dan mempermudah akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Sejak ada RSMM yang dibuka pada tahun 1999, kami tidak perlu dirujuk jauh keluar Papua. Karena fasilitas kesehatan di rumah sakit ini cukup memadai dengan peralatan penunjang medis yang canggih.

Ada juga klinik dan pelatihan terkait pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat.


Pembangunan Infrastruktur
Cukup banyak infrastruktur yang telah dibangun sejak Freeport hadir di Papua. Pembangunan jalan, bandara, sarana pendidikan, telekomunikasi, listrik, air bersih, kesehatan dan ekonomi telah dilakukan untuk menunjang operasional Freeport di Papua sekaligus untuk membangun daerah Papua sendiri.
Dengan infrastruktur tersebut, saya dan keluarga dapat hidup dengan lebih layak lagi di kota ini.

Mimika Sport Complex untuk persiapan PON 2020

Bandara Mozes Kilangin, Timika
Infrastruktur Jalan di Tembagapura
Gambar : Bandara Kecil di Papua (ptfi.co.id)


Freeport memang telah puluhan tahun mengambil sumber daya alam yang ada di Papua. Namun begitu banyak juga kontribusi yang dilakukan untuk masyarakat dan negara Indonesia.

Kontribusi tersebut tiada lain hanyalah tanda cinta Freeport untuk Indonesia, bumi yang kaya akan hasil alam dan semoga dibarengi sumber daya manusia yang semakin baik dalam mengelola sumber alamnya.

Terima kasih Freeport.
dari saya, Ellen, putri Papua.


Sumber Bacaan :
- www.ptfi.co.id
https://www.cnnindonesia.com
- lipsus.kontan.co.id/
View Post


Kalau sebelumnya saya menulis tentang cara mengatur keuangan rumah tangga, kali ini saya akan bercerita pengalaman saya mengajarkan konsep mengatur keuangan pada anak saya, khususnya uang jajan.

Memiliki anak di usia sekolah, cepat atau lambat mereka akan belajar tentang uang jajan. Walaupun kita tidak mengajarkan tentang uang yang fungsinya untuk jajan, mereka akan otodidak belajar dari lingkungan sekolah dan temannya.

Kalau dulu saat masih kecil mereka tidak mengerti tentang nilai uang, pentingnya uang, dan susahnya mencari uang, pelan-pelan kita sebagai orangtua harus mengajarkannya.

Paling tidak mereka memahami kalau mereka juga harus mengatur uang jajan sendiri. Dengan memahami konsep dasar mengatur keuangan, kelak mereka bisa lebih mandiri dan dapat membedakan soal kebutuhan dan keinginan dalam membelanjakan uang mereka.

Permintaan anak-anak itu sebenarnya cukup sederhana.

Mainan atau jajanan. Tidak jauh-jauh dari itu. Namun akan berubah menjadi tidak sederhana saat mereka meminta mainan atau jajan dengan harga yang cukup fantastis atau mainan yang jenisnya hampir sama dengan yang telah dibeli beberapa kali sebelumnya.

Contohnya saja putri saya yang kedua. Tiap ada undangan pesta yang di sekitarnya dijual mainan dan balon berbagai rupa, tiap kali itu juga ia akan meminta dibelikan mainan yang dijajakan.
Tak peduli apakah ia sudah pernah memilikinya atau belum, ia akan meminta lagi dan lagi. Dokter-dokteran, masak-masakan, berbi-berbiean, ah,, saya yang melihatnya saja bosan.

Berhubung saat ini ia dan abangnya sudah mulai sekolah dan adiknya sudah bisa diajari soal konsep uang yang sama, saya sudah mulai membatasi untuk menuruti keinginan mereka yang ujung-ujungnya hanya membuang uang percuma. Mending uangnya saya belikan sesuatu yang bermanfaat untuk mereka.

Saya memberikan jatah uang jajan di sekolah per hari. Saya memberikan opsi apakah uang tersebut ingin mereka minta harian  atau  mingguan. Dengan catatan, tidak ada tambahan uang jajan lagi selama seminggu.

Di hari Jumat mereka pun harus bisa menyisihkan uang jajan untuk infaq yang dikutip setiap minggu.

Awalnya memang berat membiasakan hal seperti itu. Namun saya berusaha untuk konsisten dengan niat anak-anak dapat mengerti maksud dan tujuan saya yang membatasi dan membuat aturan keuangan sederhana seperti itu.

Saat ini, si abang sudah mulai mengerti. Ia selalu minta uang jajan mingguan di hari Senin untuk lima hari ke depan.
Alhamdulillah selama ini jarang sekali dihabiskannya. Malah sering tidak jajan dengan alasan malas turun ke kantin karena ruang kelasnya yang berada di lantai 3.

Beberapa waktu lalu ia meminta untuk dibelikan mainan pistol NERF yang sedang hits di kalangan anak seusianya. Awalnya saya sempat bersikukuh tidak akan membelikan mainan tersebut karena harganya yang cukup mahal dan membayangkan mainan pistol tersebut hanya akan dimainkan selama seminggu saja.

Saya membiarkannya menangis semalaman di kamar. Esoknya ia teringat dengan uang jajannya yang selalu ia tabung beberapa minggu ini. Dibukanya aplikasi tokopedia di hp saya dan akhirnya dia meminta ijin kepada saya untuk menggunakan tabungan yang ia punya.

Malah dia menagih masih ada sisa sembilan ribu rupiah lagi. Mirip banget ama mamaknya satu ini, nggak mau rugi.

Tidak hanya si abang. Kedua adiknya pun mulai saya ajarkan hal yang sama.



Dari pengalaman saya tersebut, berikut tips yang bisa dicoba untuk mengajari anak mengatur keuangan, khususnya uang jajan mereka sendiri.

1.    Buat kesepakatan jumlah uang jajan dengan anak dan cara pemberiannya
Tidak ada jumlah yang pasti benar untuk nominal uang jajan anak. Cukup sesuaikan dengan kemampuan orangtua namun tidak berlebihan. Jika kemampuan kita memberikan uang jajan lebih sedikit dari temannya, jelaskan bahwa jumlah yang kita berikan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya di sekolah.

2.    Sesuaikan dengan kebutuhan anak
Kebutuhan anak berbeda, tergantung jenjang pendidikan dan fasilitas yang diberikan orangtua dan sekolah. Anak SMP akan lebih banyak kebutuhannya dibanding anak SD. Anak yang diantar ke sekolah oleh orangtuanya juga akan berbeda dengan anak yang harus naik angkot sendiri. Berilah uang sesuai dengan kebutuhan mereka.

3.    Ajarkan konsep kebutuhan dan keinginan
Agak sulit mengajarkan hal ini pada anak. Karena yang mereka tahu adalah keinginan. Masalah butuh atau tidak, perlu waktu untuk mereka belajar mengenyampingkan keinginan daripada kebutuhan.
Ajarkan anak untuk menabung jika ingin membeli mainan, gadget, atau barang lain yang bukan kebutuhan. Sehingga mereka belajar untuk mengatur keuangannya sendiri agar keinginan mereka bisa terpenuhi.

4.    Berikan syarat khusus jika anak meminta tambahan uang jajan.
Jika anak meminta uang jajan tambahan lebih dari biasanya, kita harus tahu mengapa uang yang sebelumnya sudah disepakati masih kurang. Anak saya selalu meminta uang jajan tambahan karena saya lupa memberikan uang katering padanya. Atau mungkin ada kebutuhan buku atau alat tulis yang harus ia beli sendiri di luar yang telah saya berikan.
Diskusikan pada anak, bagaimana cara agar ia dapat memperoleh tambahan uang jajan tersebut. Misalnya dengan membantu pekerjaan rumah, membantu berjualan, atau memperoleh nilai yang bagus di sekolah.

Satu hal yang juga wajib diajarkan ke anak, jangan lupa berdoa pada Allah kalau ingin sesuatu. Karena Allah yang Maha Pemberi dan pemberiannya bisa dari mana aja dan dalam bentuk apa aja.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menunjukkan film Nussa Rara yang mengajarkan anak untuk menabung demi mencapai keinginannya. Tak lupa berdoa tentunya.



View Post

Sebagai istri, rasanya harus bisa melakukan segala hal untuk kepentingan keluarga, termasuk mengatur keuangan rumah tangga agar tidak bablas. Kecuali jika kita terlahir di keluarga atau menikah dengan crazy rich asian, wkwk..

Keluarga dan rumah tangga ibarat perusahaan. Suami bertindak sebagai direktur utama untuk mencari nafkah, sedangkan istri sebagai direktur keuangan yang mengatur pengeluaran untuk segala kebutuhan domestik.

Nggak mau dong masih di tengah bulan uang sudah menipis. Akhir bulan cuma bisa melempem menunggu tanggal gajian karena uang sudah habis. Bahkan mencari pinjaman sana sini agar tetap bisa makan hingga tiba saat gajian lagi.

Kadang mikir, perasaan gaji suami cukup lumayan. Ada lagi yang istrinya juga bekerja. Tapi kok rasanya kurang terus di akhir bulan. Terus tiba-tiba baper ama rumput tetangga yang biasanya lebih hijau. Sepertinya penghasilan mereka per bulan jauh lebih sedikit dari keluarga saya. Kok bisa mereka jalan-jalan di akhir bulan? Kok bisa bla...bla..bla... 

Barangkali ada yang salah dengan cara saya mengatur pengeluaran. Bablas maning istilah jawa nya. 

Kalau ingat pelajaran akuntansi sederhana jaman kuliahan, jadi kebayang dong prinsip neraca dan laba rugi.

Aset = Hutang + Modal

Utamakan penambahan aset melalui modal, minimalkan atau tiadakan hutang pada pihak ketiga.

Modal akan bertambah atau berkurang bergantung pada laba/rugi.

Laba/rugi bergantung pada efisiensi pengeluaran atas pendapatan yang diperoleh.

Pusing kan?? Sama,, saya juga, hehe..

Jadi intinya ada dua hal yang dapat dilakukan agar keuangan rumah tangga cukup aman hingga akhir bulan bahkan bisa digunakan untuk investasi ataupun jalan-jalan. 

Istri harus bisa memaksimalkan efisiensi biaya yang dikeluarkan agar masih ada dana yang disisihkan sebagai tambahan modal yang kelak dapat digunakan untuk menambah aset rumah tangga. Bisa beli rumah, tanah, kebun, logam mulia, atau investasi lainnya.

Saya mau share beberapa cara sederhana untuk mengatur keuangan rumah tangga agar impian memiliki aset-aset yang tadi disebutkan bisa satu per satu terwujudkan.


Ilustrasi
1.  Catat pendapatan uang setiap bulan, baik dari gaji, tunjangan, lembur, dan pendapatan lainnya. Hal ini dilakukan agar bisa jelas mengetahui jumlah uang yang masuk dan bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan selama sebulan.

2.  Catat biaya-biaya yang wajib dikeluarkan, seperti cicilan rumah (kalau ada), listrik, air, belanja keperluan bulanan, uang sekolah anak, dan lainnya. dengan catatan ini dapat diketahui apakah pendapatan keluarga masih mencukupi untuk membayar kewajiban tiap bulannya.

3.  Sisihkan dana untuk tabungan dan sedekah. Bisa langsung dalam persentase ataupun tetap tiap bulan. Tabungan akan dirasa bermanfaat saat keluarga sedang membutuhkan uang. Sedangkan sedekah, sesuai dengan ajaran Islam, adalah untuk membersihkan rejeki yang didapat sekaligus amalan yang percaya atau tidak malah akan menambah rejeki di saat yang tak disangka-sangka.

4.  Sisihkan dana untuk keperluan darurat. Usahakan dana ini tidak diganggu dengan kebutuhan harian dan hanya digunakan saat sangat diperlukan. Bisa disimpan dalam rekening bank yang tidak ada ATM atau mobile bankingnya.

5.   Berhemat untuk hal-hal yang tidak terlalu dibutuhkan. Misalnya mengurangi nongkrong di cafĂ© atau kongkow bareng teman. Memang sih sekali nongkrong paling cuma 20ribu-an misalnya (kalau di starbucks minimal 50ribu-an lah, hehe). Tapi coba bayangkan kalau setiap minggu hal itu dilakukan, atau bahkan seminggu dua kali. Sudah lumayan bisa beli beras atau kebutuhan rumah tangga lainnya.

6.  Disiplin. Satu kata, tapi yang sering alpa dilakukan. Tanpa adanya komitmen dan disiplin pada rencana pengeluaran yang sudah dibuat, rasanya akan sia-sia saja catatan yang sudah dibuat.

Sekian cara mengatur rumah tangga yang saya lakukan sebagai hasil baca-baca dari berbagai artikel dan sebagainya. Bagi sebagian orang akan terasa sulit apalagi belum pernah dilakukan. Semoga bermanfaat ya.
View Post

Konsekuensi emak bekerja, harus siap saat diberikan tugas untuk ke luar kota. Dilema pasti, tapi harus tetap dijalani.

Setelah lama saya tidak diberikan tugas ke kota lain, kali ini saya tidak bisa mengelak lagi. Memang ini salah satu tugas saya yang sudah beberapa tahun ini bergelut dengan dunia aplikasi akuntansi.

Agak berat karena anak-anak sudah terbiasa dengan emaknya yang selalu tidur di rumah setiap malam. Walaupun banyak drama terjadi, tapi mereka tetap bisa bermain dan berakhir tidur dengan pelukan mamak. Saat mendapat kabar harus berangkat, saya berusaha sounding sejak beberapa hari sebelumnya. Agar mereka tidak kaget dan akhirnya membuat drama beberapa episode ke depannya.

Okay,, kuy lah. Life must go on kan.

Saya berangkat ke Meulaboh di tanggal 26 Desember 2019.

Tepat di hari 15 tahun lalu (26 Desember 2004) bencana tsunami menyapu daerah pantai provinsi Aceh dan beberapa negara lain. Dimulai dengan gempa dahsyat berkekuatan 9,8 skala richter. Menyebabkan lebih dari 100 ribu orang meninggal dunia diterjang gelombang air cukup dahsyat saat itu juga.

Pantai Meulaboh adalah salah satu daerah dengan korban jiwa yang cukup banyak. Karena terdapat pemukiman tentara yang tak jauh dari bibir pantai.

Peringatan bencana tsunami baru selesai dilakukan berbagai instansi di kota ini saat saya sampai disana. Tidak hanya di Meulaboh, pemerintah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, menjadikan hari ini hari libur se-provinsi. Jadi jangan heran jika tanggal 26 Desember 2019 tidak ada satu pun pegawai instansi pemerintah yang masuk kantor.
Kami pun sempat mengunjungi makam massal korban tsunami persis di depan pantai yang kami kunjungi.




Meulaboh sendiri adalah kota kelahiran Teuku Umar, pahlawan nasional dari Aceh. Walaupun makamnya masih cukup jauh dari pusat kota, namun tetap dikenal sebagai kotanya beliau.

Melalui penerbangan dari Kualanamu, saya dan tim tiba di bandara Cut Nyak Dien di Nagan Raya. Letaknya tidak jauh dari pantai, sekitar 20 menit dari pusat kota Meulaboh.




Saya beruntung karena saat saya baru turun dari pesawat tepat di jam 11.35 siang, gerhana matahari cincin yang memang sudah diberitakan di media, hampir menuju posisi cincinnya. Cuaca langit biru cerah, namun saya merasa gelap seperti sedang mendung.
Langsung saya mengucap takbir dalam hati karena saya diberikan kesempatan melihat ciptaan Allah yang satu ini.


Puas melihat kondisi gerhana, saya dan tim dibawa mobil jemputan ke kota Meulaboh. Melewati PLTU Nagan Raya yang baru di-gunting pita oleh Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Baru tau saya kalau di provinsi ini juga terdapat tambang batubara walaupun tidak sebesar tambang yang ada di Kalimantan.

Kami berhenti untuk makan siang di rumah makan. Judulnya ke Aceh, tapi makannya nggak jauh-jauh dari rumah makan Padang, hehe.. Teutep ini mah.
Harganya relatif murah lho, lebih murah daripada di Medan. Bisa ambil sendiri sepuasnya, nggak ada dihidangkan di meja.

Berhubung kami belum bisa bekerja karena hari libur, setelah makan kami diajak keliling kota Meulaboh. Sholat zuhur di Mesjid Agung Baitul Makmur yang megah. Lalu beranjak ke pantai Suak Ribee yang sudah ditata lebih baik sejak terhempas gelombang tsunami, untuk menikmati segelas kopi telungkup dan bermain pasir dengan deburan ombak yang cukup kencang.




Satu hal yang menarik hati. Di tengah laut, saya melihat beberapa kapal besar yang jaraknya diatur sedemikian rupa. Dari cerita sang supir yang membawa kami, kapal itu adalah kapal pengangkut batubara dari dan ke Kalimantan sebagai bahan bakar PLTU Nagan Raya yang kami lewati sebelumnya.

Kok saya jadi teringat film Sexy Killer yang sempat heboh dulu.

Akankah ekosistem laut dan sekitar PLTU tersebut akan tetap terjaga?

Teknologi memang memberikan dilema. Tak bisa dipungkiri, sejak adanya PLTU kondisi per-listrik-an di Aceh semakin membaik. Sebelumnya, listrik bisa padam hampir setiap hari. Padamnya pun nggak pake hati, bisa sampai 12 jam masyarakat hidup tanpa listrik.

Saya menghirup udara ber-angin khas pantai. Pasir putih dan air laut bersih yang pasti tidak saya temukan di kota Medan dan sekitarnya.



Pesanan kopi telungkup saya datang. Benar-benar telungkup dan saya bingung darimana harus meminumnya. Untungnya pak supir memberitahu saya caranya.
Unik sekali!!!


Menunggu hingga matahari terbenam, saya suka pemandangannya. Semoga lain kali bisa datang bersama keluarga.


Plesir colongan kali ini cukup memuaskan. Karena mulai besoknya hingga pulang saya tidak akan sempat kesini lagi.
View Post
Liburan semester I telah berakhir. Pada kemana aja mak untuk menghabiskan liburan bersama anak-anak? Semoga liburan kemarin berkesan ya.

Saya nanya mulu ih, memangnya saya kemana liburan kemarin?

Mmm,, masih di sekitar kota Medan – Binjai aja sih. Memikirkan kemacetan yang akan dihadapi menjelang Natal dan Tahun Baru saja membuat saya riweuh duluan. Membuat saya malas ke tempat-tempat wisata karena pasti rame dan udah punya pengalaman nggak enak dengan bermacet ria ke Brastagi beberapa bulan yang lalu.

Tapi kok nggak tega ama anak-anak yang nggak diajak berwisata saat liburan sekolah. Walaupun nggak ke luar kota, akhirnya saya memutuskan untuk mengajak keluarga ke tempat wisata yang dekat-dekat saja.

Bahagia anak mah sederhana, lari-lari di lapangan rumput luas kayak Bukit Kubu dan berenang di kolam biasa aja udah wow rasanya.
#lah..jadi juga ke Brastagi nya, wkwk..

Bukan itu yang sebenarnya ingin saya ceritakan kali ini. Saya ingin membagikan pengalaman anak-anak mengikuti kegiatan liburan yang diadakan oleh Beewhite Management di kota Medan.

Oiya, Beewhite Management sendiri adalah sebuah lembaga yang memiliki program pengembangan diri anak, remaja, guru dan orangtua dengan konsep berbagai metode, aksi dan media.
Berpusat di Kota Depok, lembaga ini telah melakukan banyak kegiatan di berbagai daerah di Indonesia.

Di kota Medan sendiri, saya baru mengenal kegiatan Beewhite Management dari salah satu teman yang sebelumnya pernah mengikutkan anaknya di kegiatan ini. Akhirnya saya tertarik untuk mengikutkan anak saya juga.

29 Desember 2019 : JEJAK ANAK BAIK INDONESIA
Beewhite Management kembali mengadakan kegiatan di Medan, yang di bulan sebelumnya sempat dibatalkan karena peserta yang mendaftar belum memenuhi minimum kuota yang disyaratkan.

Untuk acara kali ini, saya langsung dihubungi oleh pihak Beewhite Management untuk membantu mereka menyebarkan informasi terkait kegiatan ini di lingkungan sekolah anak saya.

Bahasa kerennya jadi marketer lah, agar jumlah peserta minimal dapat memenuhi kuota dan tidak dibatalkan lagi seperti bulan Nopember sebelumnya.

Saya langsung menerima tawaran itu dengan niat dengan menyebarkan hal-hal positif ke orang lain, pasti saya juga sedang memberikan hal positif ke diri sendiri.

Banyak yang bertanya bagaimana kegiatannya?
Apa nggak masalah meninggalkan anak dengan orang-orang baru yang belum dikenal sama sekali?
Kegiatannya seharian penuh lho, apa anak-anak nggak bosen?

Saya ceritakan pengalaman saya ya.

Pertama kali saya mengikutkan Raihan, anak pertama saya, ke acara dari Beewhite Management adalah di bulan Ramadhan dua tahun lalu. Di saat dia masih belajar puasa. Agar ada aktivitas lain yang membuatnya lupa akan lapar dan haus saat puasa.

Sempat takut dan banyak bertanya banyak hal ke teman saya yang sudah duluan mengikutkan anaknya ke acara yang sama. Saya coba mengajak teman dekat Raihan di sekolah untuk ikut agar ia memiliki orang yang dikenal sebelumnya.

Sempat was was saat meninggalkannya pagi-pagi dengan panitia. Alhamdulillah, tak lama ada grup yang dibuat panitia sebagai media agar orangtua mengetahui apa saja aktivitas anak-anaknya selama di acara. Dan saya bahagia sekali melihat ekspresi anak-anak yang dibagikan di grup itu.

Menjelang jadwal penjemputan, saya dan suami sudah standby menunggu di luar gedung kegiatan tersebut. Memang agak terlambat dari jadwal, tapi saya rasa biasa saja terjadi sesuatu yang di luar kendali panitia dalam suatu acara. Yang penting anak-anak masih semangat dalam mengikutinya.

Nggak disangka, Raihan minta diikutkan lagi jika ada acara serupa. Katanya seru, dan dia mendapat teman-teman baru. Bahkan saat ini dia memiliki sahabat dari Kota Siantar yang selalu satu kelompok saat acara Beewhite seperti ini. Ahh… mamak meleleh. Anak mamak sudah mulai besar.

Hmm,, kembali ke acara kali ini.
Apa saja kegiatan di acara Beewhite kali ini?
Sudah tergambar jelas di poster flyer ini. Abaikan nama saya di bawah, hehe..


Biar lebih jelas, bisa lihat di video berikut ya.


Berikut ini momen anak-anak yang dibagikan panitia melalui grup whatsapp yang buat para orangtua tenang dan happy di rumah.


Semangat banget jawabnya bang..

Persiapan Memanah

Panah bangggg...

Bermain bersama Tim

Belajar Tata Surya

Teropong Matahari

Melukis

Keseimbangan


Kegiatannya cukup padat.
Mulai dari sholat Dhuha, penjelasan di dalam ruangan, dan berbagai kegiatan di luar ruangan.

Pantesan aja anak-anak nggak bosan.

Yang paling penting adalah setiap kegiatan yang dilakukan anak-anak memiliki tujuan untuk pengembangan karakter masing-masing. Dapat bersosialisasi dengan orang yang baru dikenal, bermain bersama, melatih fokus dan keseimbangan, bekerjasama dalam tim, banyak hal seru yang bisa didapatkan. Kegiatannya juga dapat mengembangkan berbagai tipe kecerdasan dalam diri anak

Mau mencoba? 

InsyaAllah Beewhite akan mengadakan kegiatan JEJAK ANAK BAIK INDONESIA tiap setahun sekali. Jika banyak peserta berminat, ada kegiatan serupa seperti Petualangan Mimpi, Ekspedisi Jejak Rasul, dan Talent Adventure.

Sebenarnya di tanggal 29 Desember 2019 juga ada kegiatan Talent Adventure di Medan. Tapi karena anak saya tidak ikut jadi peserta, saya belum bisa cerita pengalaman di dalamnya.

Semoga anak-anak Indonesia menjadi anak yang memiliki kepribadian yang baik dan dapat optimis menghadapi masa depan.

SEMANGAT!!!!
View Post
Ilustrasi : rakyatku.com
Masih jam 5 pagi saat saya sudah bersiap berangkat ke kantor, tak sempat sarapan. Ada jadwal menemani si bos mengajar di luar kota yang akan ditempuh pulang pergi hari itu juga.

Suasana masih sepi. Biasanya saya diantar suami jika harus berangkat sepagi ini. Namun kali ini berbeda. Ia baru memulai S2 nya di pulau lain. Rencana kepulangannya masih dua hari  ke depan.

Ahh, saya tunggu saja 15 menit lagi. Setelah sholat subuh, pasti sudah banyak orang di jalan yang saya lewati. Mengurangi rasa takut ada orang jahat yang berniat melukai.

Tepat pukul 5.15. Saya laju motor ke rute biasa menuju kantor. Di sana akan ada mobil yang membawa saya dan bos menuju daerah Simalungun. Bisa saja saya minta tolong dijemput ke rumah, tapi kok nggak enak merepotkan.

Langit masih cukup gelap. Namun sudah ada satu dua kendaraan yang melintas. Saya jaga kecepatan 70 - 80 km/jam agar tidak terlalu jadi perhatian.

Lewat depan masjid besar di kota Medan, jamaah subuh mulai keluar setelah sholat selesai. Saya dengan pede merasa aman karena orang sudah ramai.

Sampai tiba-tiba di perempatan yang memang agak gelap, ada tangan dari samping kanan yang dengan cepat mengambil kunci motor yang menempel di lubang.

Saya terhenyak, apa itu setan? Cepat sekali hanya dalam satu kedipan.

Ternyata bukan. Dua orang lelaki di atas motor lain menyuruh saya berhenti. Saya tak peduli, mereka langsung berhenti di depan motor yang saya naiki. Rem dan berhenti pun tak terhindarkan.

"Turun!" teriak salah satunya.

Jiwa pemberontak saya melawan, "Apa ini??" sambil melotot besar-besar.

Kemudian terdiam melihat pisau yang ditujukan ke hadapan.

Jantung berdegup makin kencang. Saya turun dari motor dan membiarkan lelaki itu mengambilnya. Ingin melawan lebih jauh, kok teringat ada dua anak di rumah yang bisa saja kehilangan mamaknya. Kali ini harus jadi pengecut karena saya masih mau hidup.

Saya pikir mereka akan langsung pergi. Namun salah satunya mengingatkan yang lainnya untuk mengambil kembali tas ransel yang menempel di punggung.

Mau tak mau, saya harus berusaha lari demi menyelamatkan aset kantor yang ada di dalamnya. Egois,, masih memikirkan kantor di saat-saat begini. Walaupun risiko tertusuk pisau tetap ada, saya beranikan lari menuju arah cahaya motor yang melaju ke tempat saya berdiri.

Sempat ingin mengejar, kedua perampok itu pun mengurungkan niatnya melihat ada orang yang datang.

Saya?? Dengan tangis yang tertahan, tubuh gemetar, langsung berjongkok tak berdaya. Mengumpulkan sisa-sisa tondi yang hampir hilang.

Tak lama mobil kantor datang. Saya putuskan untuk tetap lanjut ke luar kota. Tak guna meratap dan menangisi keadaan dan motor yang diambil orang. Hidup harus terus berjalan bukan?

3 jam saya diam di perjalanan. Teringat sekelebat kejadian yang tak pernah terpikirkan. 

Saat ditanya keadaan, saya langsung menjawab, "Pak, saya lapar!"

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Itu yang saya alami sekitar awal tahun 2014. Risiko ibu bekerja saat harus pulang malam atau berangkat subuh ke luar kota. Dari cerita ini, saya ingin berpesan agar lebih hati-hati di jalan. Hindari naik motor dalam keadaan masih gelap, apalagi melewati jalan yang tak banyak orang.

Untuk yang tinggal di Medan, lebih waspada kalau harus melalui jalan-jalan berikut ini di kala malam hingga menjelang hari terang :

- Jalan Sei Serayu - Jalan. Abdullah Lubis hingga di ujung jalan samping Gelato Bar.
- Jalan di sekitar RS HERNA, ada banyak gang yang memungkinkan begal segera melarikan diri
- Jalan Asrama - Jalan Kapten Sumarsono
- Bundaran KFC Walikota

Saat saya melapor ke kantor polisi beberapa hari kemudian, ternyata ada beberapa korban yang dibegal juga di jalan-jalan yang saya sebutkan itu.

STAY SAFE semuanya ya!!!!!
View Post