Batuk Pada Anak

Gambar : child-matters.co.uk

Udah seminggu lebih si kecil batuk dan demam. Biasanya saya tidak terlalu khawatir dan mengandalkan imun atau kekebalan dalam tubuhnya untuk melawan penyakit sejenis common cold seperti demam atau selesma. Toh biasa anak kecil mengalami flu/pilek sebulan sekali. Tubuhnya masih dalam proses melawan virus yang masuk. Selama makan minumnya bagus, anak aktif dan tidak ada keluhan berarti, saya berusaha untuk tenang sambil tetap memberikan asupan obat alami seperti madu, kurma dan air perasan kunyit plus lemon.
Namun batuk pada anak saya kali ini berbeda. Semakin hari batuknya semakin menjadi. Si kakak memang memiliki riwayat rhinitis alergi yang menyebabkan ia sering terbangun dan batuk-batuk di malam hari menjelang pagi. Sering tidak tega jika alergi nya kumat. Batuk selama setengah jam sampai satu jam dengan jeda beberapa menit. Saya mencoba mengoleskan minyak kayu putih atau balsem untuk menghangatkan dada dan lehernya. Hasil pemeriksaan dokter, alergi hanya bisa sembuh seiring dengan meningkatnya kekebalan tubuh. Dan saya harus sabar hingga usianya kurang lebih 10 tahun sambil memberikan suplemen alami untuk imunitasnya.
Lah,, terus kenapa kali ini si adek ikut batuk juga? Dengan bunyi batuk yang makin hari makin mirip dengan si kakak. Panjang sampai 3-4 kali tarikan nafas baru berhenti, berakhir seperti mau muntah. Yang bikin tambah curiga, adek mengalami demam beberapa hari. Dikasi penurun demam, baru bisa aktif lagi. Insting mamak mengatakan ada yang tidak beres dengan kakak dan adek. Dan adek kemungkinan tertular dari kakak.
Setiap orangtua yang masih memiliki anak usia di bawah 10 tahun, pasti akan cukup sering mengalami hal seperti yang saya alami. Ada baiknya kita mencari tahu segala hal terkait batuk pada anak.
Apa itu Batuk?

Batuk adalah respon alami tubuh sebagai sistem pertahanan untuk mengeluarkan lendir dari saluran pernafasan, serta mencegah benda asing masuk ke saluran nafas bawah. Selama masih ada batuk, tubuh berusaha untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganggu sebagai upaya untuk melindungi organ lain di dalamnya. Batuk yang tidak terindikasi penyakit biasanya akan berhenti dalam dua atau tiga hari. Jika batuk terjadi terus menerus dengan adanya dahak berwarna atau bahkan darah, biasanya menandakan adanya gangguan medis yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Jenis Batuk pada Anak
Sebagai orangtua kita harus dapat mengenali batuk yang terjadi pada anak. Hal ini sangat berguna agar dapat memberikan tindakan yang tepat jika anak kita mengalaminya. Berikut jenis-jenis batuk pada anak yang harus diketahui orangtua.
1.    Batuk Alergi
Batuk ini terjadi karena adanya alergen yang memicu tubuh untuk batuk. Misalnya debu, udara dingin, minuman dingin/es, coklat dan lainnya. Batuk akibat alergi hanya akan berhenti jika anak dijauhkan dari pencetus alerginya dan akan sembuh seiring dengan meningkatnya sistem kekebalan tubuh saat anak mulai dewasa.
2.    Batuk Kering
Batuk ini sering dialami oleh anak akibat adanya infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Batuk ini biasanya disebabkan oleh virus atau bakteri yang mengganggu produksi lendir di saluran pernafasan. Anak akan merasakan gatal di tenggorokan dan batuk tanpa lendir.
3.  Batuk Berdahak
Batuk berdahak pada anak biasanya disebabkan oleh virus atau bakteri yang memicu produksi lendir berupa dahak untuk membersihkan saluran pernafasan seperti paru-paru dan bagian belakang tenggorokan. Batuk ini biasanya diawali oleh pilek dan flu.
Indikasi Medis Batuk pada Anak
Batuk pada anak yang tak kunjung sembuh, biasanya merupakan indikasi adanya infeksi bakteri atau virus di saluran pernafasan. Infeksi ini sering dibarengi dengan demam dan sesak nafas. Jika hal ini terjadi sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter terkait hal yang dapat dilakukan untuk mengobati batuk dan demamnya. Kebanyakan dokter umum (apalagi yang cenderung tidak menerapkan prinsip Rational Use of Medicine “RUM”) akan memberikan antibiotik jika dalam 3 hari batuk tak kunjung reda. Dalam hal ini kita sebagai orangtua harus lebih bijak untuk bertanya alasan mengapa harus diberi antibiotik.
Kalau saya relatif cerewet untuk pemberian antibiotik ke anak. Jadi biasanya saya akan langsung bertanya pada teman dokter sebagai second opinion atau langsung saja ke dokter spesialis yang dapat saya pastikan “pelit” obat.
Jangan pernah memberikan antibiotik tanpa petunjuk dari dokter atau tidak menghabiskan antibiotik yang telah diberikan atas saran dokter.
Berikut indikasi medis yang sering menyertai batuk pada anak.
1. Asma
Anak yang batuk terus menerus disertai sesak nafas terindikasi menderita asma. Asma dapat dipicu oleh cuaca dingin, debu dan wewangian yang menyengat.
2. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Infeksi disebabkan adanya virus atau bakteri yang masuk ke saluran pernafasan. Pada awal terinfeksi, biasanya akan menimbulkan gejala batuk, pilek, dan demam. Sistem kekebalan tubuh akan berusaha melawan virus atau bakteri tersebut. ISPA bersifat menular melalui kontak dengan percikan air liur orang yang terinfeksi. ISPA juga dapat menimbulkan sesak nafas yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
3. Pneumonia
Pneumonia adalah peradangan pada paru-paru yang diakibatkan oleh bakteri patogen yang menyerang paru-paru. Anak yang terinfeksi pneumonia biasanya akan mengalami sesak nafas sehingga membutuhkan bantuan tabung oksigen agar dapat bernafas dengan baik.
4. Bronkhitis
Bronkhitis adalah peradangan yang terjadi pada saluran utama pernafasan (bronkus), sebagai saluran yang membawa udara dari dan menuju paru-paru. Bronkhitis biasanya ditandai dengan batuk yang tak kunjung sembuh lebih dari seminggu.

5. Pertusis
Pertusis atau batuk rejan ditandai dengan batuk yang panjang saat menyerang, sekali batuk hingga 4-5 kali tarikan nafas dan diakhiri dengan ingin muntah. Pada remaja dan dewasa pertusis biasanya ditandai dengan batuk yang tak kunjung sembuh selama kurang lebih 100 hari atau 3 bulanan dengan gejala seperti batuk pilek biasa. Namun tidak begitu efeknya saat pertusis menyerang anak bayi dan balita yang dapat menyebabkan komplikasi pada paru dan organ tubuh lainnya. Pertusis sulit untuk dideteksi karena gejala awalnya mirip dengan batuk biasa. Tingginya tingkat kematian bayi dan balita akibat penyakit ini mendorong badan kesehatan dunia untuk menyarankan anak divaksin DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) sejak usia 2 bulan. Pertusis memerlukan konsultasi dokter.
Apa yang harus dilakukan jika anak batuk?
Batuk pada anak pada dasarnya adalah reaksi tubuh sebagai tanda ada sesuatu yang masuk ke tubuh berupa virus, bakteri, atau alergen lainnya. Jadi fokus utama adalah mencari penyebab batuk agar dapat memberikan pengobatan yang tepat sehingga batuk tersebut menghilang. Selama masih ada batuk, dapat dipastikan masalah yang masuk ke tubuh belum tuntas.
Ingat ya, cari penyebab, bukan langsung mengobati dengan mencoba-coba obat, terutama antibiotik. Kecuali kondisi anak sudah lemah dan antibiotik adalah satu-satunya cara yang dapat digunakan sementara hingga diketahui penyebab batuknya.

Berikut yang dapat dilakukan jika anak batuk.
1. Jaga cairan tubuh untuk mencegah dehidrasi
Anak yang batuk membutuhkan cairan yang cukup untuk menjaga kondisinya. Berikan minuman berupa air putih atau minuman hangat agar tenggorokan tidak kering. Misalnya teh madu lemon atau jeruk nipis yang dapat menyegarkan tenggorokan.
2. Lakukan terapi uap alami
Terapi uap alami dapat dilakukan dengan meneteskan minyak kayu putih ke dalam baskom berisi air panas. Letakkan baskom di dekat anak agar dapat menghirup uapnya. Hal ini dapat mengurangi mampet dan batuk pada bayi dan balita. Jaman sekarang banyak yang mengganti minyak kayu putih dengan essential oil yang diuapkan melalui difuser yang lebih praktis.
3. Oleskan minyak kayu putih atau balsem anak ke punggung atau leher
Efek hangat dari minyak kayu putih atau balsem dapat sedikit mengurangi rasa gatal di tenggorokan. Hindari hal ini pada anak yang terindikasi alergi kulit.
4. Jika batuk berlanjut lebih dari tiga hari, segera konsultasikan ke dokter.
Batuk yang lebih dari tiga hari dan disertai gejala lain yang membuat anak tampak tidak sehat seperti demam, sesak nafas, lemas, dan batuk yang panjang hingga menyebabkan muntah, sebaiknya langsung dikonsultasikan ke dokter untuk mencari penyebab batuk. Usahakan untuk selalu memberikan masker pada anak dan mengajarkan anak untuk menutup mulut agar saat batuk tidak menyebarkan virus/bakteri penyakit ke orang lain. Pemeriksaan bisa berupa cek fisik/klinis/tubuh anak hingga tes darah di laboratorium.

Sekian tulisan saya tentang batuk pada anak yang diambil dari pengalaman pribadi dan bacaan dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
Eh, bentar-bentar... 
Lalu apa yang terjadi dengan kedua anak saya? Sempat diduga leukemia dan kami dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap alatnya dan berbagai hal yang membuat emosi mamak naik turun.
Cerita lengkap dapat dibaca di tulisan pertusis selanjutnya.

18 comments:

  1. Paling susah punya anak dibawah 2 tahun kalau kena batuk. Belum bisa ngasih tahu sakitnya bagaimana. Jadi kita orang tua. Harus cepat tanggap

    ReplyDelete
  2. Paling sering memang pada anak itu pertusis kak. alias dikenal dengan batuk rejan 100 hari. Kita aja orang dewasa kalo udah batuk sakit banget, mau beraktivitas terganggu, apalgi anak-anak ya. paling bentuk komunikasi mereka dengan kita ya nangis. semoga cepat sembuh si adek ya kak.. aaamin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang harusnya udah jarang. Karena dari WHO udah digalakkan imunisasi DPT, dan negara kita udah dinyatakan bebas pertusis. Qadarulloh, masih ada aja ternyata.

      Delete
  3. serem ah naudzubillah mksi infonya mak tapi ga sanggup juga baca detailnya pas masuk pertusis dan yg parah parah itu. karna saya pribadi sempat diagnosis punya alergi rhingitis. Alhamdulillah insyaAllah skrg dah sembuh.

    berharap berdoa anak keturunan kita sehat sehat dan mendapatkan lingkungan yg juga sehat ya rabb..

    ReplyDelete
  4. Sehat selalu anaknya yaa Devi... anak kk yg no 2 kl batuk langsung siap2lah kami nebulizer dan ventoline. Tapi insyaallah lama2 akan sembuh seiring bertambahnya usia, kata DSA nya gituu. Sekalian dibikin blogpost jadi produktif ya upaya mamaknya dalam searching batuk anak. Luar biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo da soal anak, dv harus banyak2 baca kak mia. Masih kalah luar biasa lah dari bu dosen..😊

      Delete
  5. Kasian itu kalau anak- anak batuknya bersuara. Khong khong.. aihh kayaknya nyesek n sakit huhu

    ReplyDelete
  6. Sedih banget emang kalo anak terserang batuk yang berkepanjangan. Memang sebaiknya periksa ya Mak. Tapi lain pertusis lain TB. Kalo pertusis langsung terlihat, kalo TB itu silent banget. Gak nunjukin reaksi apapun . Hmmm emang ibu harus selalu sensitif sama kesehatan anak. Biar gak semakin parah dan ditemukan penyakit lainnya .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mak. Penyakit apapun itu, harus cepat tanggap kita emak2 ni..

      Delete
  7. Kalau anak udah batuk ya Allah, sedih kak 😢 tak bisa tidur, duh, memang hrs waspada penyebab dan jenis batuknya apa, jd tau obatnya apa

    ReplyDelete
  8. Jika anak udah kena batuk. DUh, rasanya sedih banget. Apalagi kalau anak sulungku batuk, malam gak bisa tidur karena kalau batuk sampe muntah. Apalagi kalau sampai pertusis. Hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jauh2 kak pertusis. Sedih kali liat anak batuk parah gitu. Semoga selalu sehat kita semua.

      Delete
  9. Terkadang membingungkan orangtua kalau anak mengalami batuk. Aku aja bingung kalau liat ponakan batuk. Kasihan. Terima kasih tipsnya, kak. Perlu dicoba kalau ponakan mengalami batuk.

    ReplyDelete
  10. Memang kalau masa anak-anak dulu saya sering kena batuk. Kalau udah batuk itu rasanya adudu. Tapi itu pun batuk karena minum es. Makanya kalau sekarang yang berbau es diminimalisir.

    ReplyDelete