Saat DBD Menyapa

June 09, 2020

Demam Berdarah Dengue

Holaaa... Kali ini saya mau menceritakan pengalaman saya yang udah pernah temenan ama penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).


Ihh, temenan kok ama penyakit sih? Kayak nggak ada teman lain aja.


Saya lebih suka temenan daripada musuhan, haha..


Sejak SMA, saya udah beberapa kali berhadapan langsung dengan penyakit ini. Udah pernah diopname dan jarum gantung dua kali, terakhir sekitar 5 tahun yang lalu. Awalnya saya pikir kalau sudah pernah kena sekali, maka tidak akan terjangkit demam ini lagi. Ternyata.. saat kondisi saya lemah dan ada nyamuk Aedes Aegypti memasukkan virus ke tubuh saya, saya pun limbung dan harus diopname lagi.


Dua anak saya juga pernah terjangkit penyakit DBD. Waktunya berbeda 2 tahun namun sama-sama harus diopname di rumah sakit. Padahal saya merasa sudah cukup menjaga lingkungan rumah saya agar bersih sehingga tidak ada nyamuk aedes bersarang di sekitar. Kesimpulan saya adalah se-higienis apapun lingkungan sekitar kita, tetap ada aja kemungkinan untuk terkena penyakit jika Allah menghendaki.


Mungkin karena dari dulu saya suka hal-hal yang berbau biologi dan penyakit (a.k.a cita-cita dokter yang gak kesampaian, haha..), setiap ada penyakit di sekitar, saya selalu kepo dan langsung mencari tahu tentang penyakit itu. Termasuk yang kata Upin Ipin demam denggi ini. Saya yakin suatu saat pasti ada manfaatnya. Mungkin bukan untuk saya, tapi untuk orang-orang di sekitar saya yang mungkin punya penyakit dengan ciri-ciri yang sama.


Berbagai pengalaman selama punya tiga anak, otomatis mengajarkan saya untuk lebih sabar dan gak langsung panik saat anak demam. Demam lebih saya artikan sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang masuk ke tubuh (bisa virus, bakteri, jamur, dll) dan tubuh sedang melawan agar tidak sakit. 


Saya pernah menulis tentang demam beberapa tahun yang lalu dan sampai sekarang saya selalu mengikuti tata laksananya.


Demam Berdarah Dengue (DBD) : Apa dan Bagaimana Gejalanya?

Hingga saat ini, kasus DBD masih cukup banyak di Indonesia. Penyakit ini menjadi semacam siklus tahunan dan memang ada beberapa daerah dinyatakan sebagai Kasus Luar Biasa (KLB) DBD.

Mengutip dari tulisan dr. Mochammad Muchlis, Sp.A., virus dengue termasuk famili Arbovirus (arthropod-bone virus), secara primer menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. 

Infeksi virus disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe virus dengue (DENV), yaitu : DENV-1, -2, -3 dan -4. Infeksi primer dengue adalah infeksi yang terjadi pada pasien yang belum pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya. Infeksi sekunder terjadi pada pasien yang telah terinfeksi virus dengue sebelumnya.

Orang yang terinfeksi virus ini dapat menunjukkan gejala ataupun tidak ada gejala. Gejala yang biasa ditunjukkan adalah demam, ada yang dengan pendarahan maupun tanpa pendarahan. 

Demam akibat DBD akan berlangsung selama 2-7 hari dan disertai dengan badan lemas, nyeri otot dan sendi dan nafsu makan berkurang. Gejala lain yang saya rasakan adalah sakit kepala hebat, mual, muntah dan muncul bintik merah di kulit.

Fase perjalanan infeksi virus dengue yang menjadi DBD ada 3, yaitu :

a. Fase demam : fase demam adalah awal infeksi virus yang ditandai demam tinggi mendadak, berlangsung selama 2-7 hari.

b. Fase kritis : periode perembesan plasma dimulai dari sekitar peralihan fase demam ke fase tidak demam, berlangsung selama 24 sampai 48 jam.

c. Fase penyembuhan : dimulai saat fase kritis berakhir, ditandai dengan kondisi pasien yang semakin membaik dan mulai meningkatnya jumlah trombosit.



Bagaimana pengobatannya DBD?

Kebanyakan pasien demam dengue sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk dipantau kondisinya (tekanan darah, nadi, dan suhu) secara berkala. Selain itu dilakukan tes darah untuk memantau jumlah trombosit, hematokrit dan leukosit setiap hari. Kalau anak saya dulu dua hari sekali diambil darah. Kata dokternya kasihan karena masih anak-anak.

Pemantauan lebih intensif dilakukan saat masuk fase kritis. Biasanya banyak orangtua yang lalai justru saat demam si anak turun. Lalu tiba-tiba kondisi fisiknya menurun dan menjadi lebih buruk karena penanganan yang kurang tepat.

Karena disebabkan oleh virus, DBD pada dasarnya akan sembuh sendiri. Yang dapat dilakukan adalah menjaga kondisi tubuh pasien hingga fase penyembuhan. Antara lain dengan :

1.  Istirahat
2. Mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Cairan dapat berupa air putih, susu, jus, cairan elektrolit dari infus.
3. Pemberian paracetamol jika terjadi demam, sakit kepala atau nyeri tubuh lainnya
4. Segera bawa pasien ke rumah sakit jika kondisi memburuk dan terdapat pendarahan.


Beberapa kali menghadapi penyakit ini, membuat saya paham siklusnya secara medis sehingga bisa lebih rasional dalam pemberian obat dan nutrisi untuk anak.

Hal ini yang paling dibutuhkan oleh orangtua saat anak sakit. Informasi tepat sehingga stok sabar pun meningkat, nggak panik menghadapi kondisi anak. 

Trust me,, nggak akan ada yang mau dimarahin ama dokter gara-gara memijat anak dengan minyak bawang kan? Trus disuruh sekalian goreng anak sendiri, haisshh..

Atau ditegur karena heboh kasi jus jambu, sari kurma, dan lainnya ke anak saat anak diopname karena DBD?

Saya udah pernah soalnya. Saya coba ambil positifnya sih. Jadi mengerti penanganan DBD secara medis gimana. 

Kesel?? Pasti ada lah saat dimarahi dokter. Merasa jadi ibu yang nggak berguna sama sekali. Tapi setelah dipikir-pikir yang dibilang dokter ada benarnya dan saya semakin gencar untuk cari tau ini itu demi anak-anak saya khususnya.

Jadi, gimana supaya DBD bisa jadi “teman” saat “menyapa” kita atau anak kita?? (Ini jawaban versi saya dan belum diuji kebenarannya oleh dokter, haha…)

1. Pahami ciri-ciri awal DBD

2. Pastikan dengan diagnosa dan hasil lab dari dokter anak

3. Pahami siklus penyakit DBD (3 hari pertama demam naik turun, hari 4-6 demam turun namun ini biasanya fase kritis, dan biasanya lagi hari ke-7 atau 8 udah mulai pulih ditandai dengan kenaikan jumlah trombosit dan nafsu makan meningkat.

4. Pastikan kecukupan cairan, istirahat, frekuensi/tekstur/warna BAB dan BAK anak. Tetap pantau kondisi fisiknya.

5. Perbanyak STOK SABAR. Menghadapi anak sakit, baik DBD atau penyakit lainnya mengharuskan orangtua haris lebih sabar menghadapi rewel, nggak nafsu makan, bosan nunggu trombosit naik, sakit karena diinfus dan diambil darah, dan lainnya.

Hingga saat ini, DBD udah pernah menyapa saya empat kali. Mudah-mudahan dia nggak kangen ama saya dan menyapa kembali.

You Might Also Like

0 comments

Instagram