Pantai Tebing : Eksotisme Tebing di Lampu'uk

September 23, 2020

Hai sobat mamak!!!!
Masih anteng di rumah aja kan? Semoga pandemi ini cepat berlalu supaya kita semua nggak jadi halu, hehe..

Kali ini mamak mau berbagi pengalaman di bulan Agustus kemarin yang awalnya nggak ada rencana untuk ke Banda Aceh. Niat utamanya sih silaturahmi ke kampung di Matang Glumpang II dan menikmati sate matangnya yang nikmat tiada dua. Eh,, malah menyempatkan diri untuk sehari ke kota Banda Aceh yang jaraknya 5 jam lagi dari kampung kami. 

Cukup capek sih karena cuma sehari udah harus langsung pulang ke Medan. Tapi alhamdulillah karena kami cukup menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan, rasa capek yang dirasa bisa terbayar dengan hati yang sudah dicas kembali untuk rutinitas harian.

Kami sempat istirahat untuk sholat magrib dan makan malam di daerah Saree. Ada satu warung yang iklannya sudah kami liat sejak masuk ke bukit Seulawah. Cikgu Coffee namanya. Ibarat alarm, setiap 500 meter sudah ada pamflet yang sama di pinggir jalan seolah tak berhenti mengingatkan kami untuk singgah di tempat itu. Otomatis rasa penasaran membuat kami memilih warung tersebut sebagai tempat istirahat. Teknik marketing si pemilik yang cukup oke untuk menarik pengunjung singgah ke tempatnya.

Kami akhirnya sampai di rumah sepupu pukul 10 malam dan beristirahat untuk bisa berkeliling kota Banda Aceh esok harinya.

Pagi hari kami semua sudah bersiap. Tak lupa sedia masker yang sudah kami bawa sejak dari Medan. Tujuan kami adalah ke pantai Lampuuk, Museum Tsunami, Kapal Apung, sholat zuhur di masjid Baiturrahman dan makan ayam tangkap di sekitar Ulee Kareng sebelum pulang ke Medan di sore harinya.

Karena masih pagi dan cuaca tidak terlalu panas, mobil kami melaju ke pantai Lampuuk sebagai tujuan pertama. Jaraknya sekitar 30 menit dari bundaran Lambaro, melewati sawah yang masih hijau menghampar berdinding bukit barisan. Banyak sapi yang juga sedang mencari makan di dekat area persawahan. 

Tak lama kami dapat melihat plang bertuliskan Selamat Datang di Pantai Lampuuk. Namun karena tidak berniat untuk mandi di pinggir pantai, akhirnya pemandu kami memutuskan untuk memutar balik mobil dan mengarahkan ke arah Pantai Tebing yang sebenarnya masih termasuk daerah Lampuuk. Namun letaknya di paling ujung garis pantai dan bersebelahan dengan tebing. Katanya pemandangan disana bagus namun memang tidak bisa mandi di pinggir pantai karena ombaknya cukup besar menghantam tebing.

Mobil kami berhenti di parkiran yang nyaris tidak ada orang. Sepi... mungkin karena kami datang di hari Senin saat orang-orang sudah kembali ke rutinitas kerja di kantor. Terlebih masih relatif pagi untuk sekedar menikmati pemandangan laut bagi masyarakat sekitar. Jadilah pantai ini serasa milik kami sekeluarga. Kami harus berjalan sekitar 100 meter dari parkiran ke tepi pantai.

Benar saja saat sampai kami langsung terkesima dengan pemandangan yang disuguhkan di depan mata. Satu kata, EKSOTIS!!!!

Pantai Tebing, Lampuuk (dok.pribadi)

Deburan ombak cukup kencang menghantam tebing yang ada di sisi kanan pantai. Kepiting kecil bermain-main terseret ombak dan berusaha kembali ke lubang masing-masing. Nggak perlu jauh ke pulau seberang jika ingin menikmati pemandangan eksotis seperti ini. Ternyata di Banda Aceh juga ada.

Air laut yang belum pasang masih memungkinkan kami untuk sekedar memainkan kaki kami di air. Muka anak-anak sudah mulai memelas agar diberi ijin. Padahal sudah ada tanda untuk tidak boleh mandi di tepi pantai itu.




  
Mamak ama ayah juga nggak mau ketinggalan dong...





Puas menikmati keindahan pantai Tebing, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, yaitu Museum Tsunami dan Kapal Apung. Kami harus kecewa saat mengetahui kedua tempat wisata tersebut ditutup sejak bulan Maret karena pandemi. Yah... nggak jadi deh bawa anak-anak kesana. Tapi wajar sih Pemerintah Aceh melakukannya. Jangan sampai gara-gara tempat wisata tersebut dibuka malah jadi sarana penyebaran virus covid-19 yang sedang merebak.

Berhubung waktu Zuhur sudah hampir tiba, kami pun bergerak ke arah Masjid Baiturrahman yang dikenal sebagai ikon kota Banda Aceh. Walaupun kami juga sedikit kecewa karena payung di halaman masjid yang mirip dengan di masjid Nabawi tidak dibuka dengan alasan menghindari kerumunan orang di bawah payung untuk berteduh dari panas matahari, alhamdulillah kami tetap dapat melaksanakan sholat Zuhur berjama'ah disana. 

Saat akan berwudhu saya cukup senang melihat tempat berwudhu dan toilet serta kamar mandi bawah tanah yang cukup bersih, luas, dan memungkinkan pengunjung untuk sekedar beristirahat di sekitarnya. 

MasyaAllah... Inilah masjid yang tidak tersapu air sedikitpun saat di sekitarnya gelombang tsunami menerjang apapun yang ada di hadapannya.


Masjid Baiturrahman, Banda Aceh (dok. pribadi)

Selesai sholat Zuhur, perut kami sudah terdengar keroncongan. Dengan bantuan seorang teman, kami diarahkan ke RM Hasan yang sudah cukup dikenal di kota Banda Aceh. Puas rasanya kami dapat menikmati sajian ayam tangkap, kari bebek dan udang galah yang cukup besar kesukaan anak-anak. Cukup untuk mengisi perut kami yang lapar karena lelah seharian berkeliling.

Setelah amunisi perut terpenuhi, kami pun siap kembali ke kota Medan untuk menjalani rutinitas harian seperti biasanya.

Bagi sobat mamak yang ingin ke Banda Aceh, jangan lupa menyempatkan diri ke Pantai Tebing untuk menikmati eksotisme tebing di daerah Lampuuk ya. Dijamin bakal terpesona.

Salam cinta,
Mamak 





You Might Also Like

0 comments

Instagram