Kabsyah binti Rafi'

October 12, 2020



Assalamu'alaykum.

Kali ini saya mau nulis tentang kisah shahabiyyah lagi ya. Sekali lagi kisah ini saya ambil dari grup whatsapp Sprit Nabawiyah Community (SNC) yang disupervisi mbah Diaz. 

Kenapa belakangan ini mulai muncul kisah atau siroh seperti ini di blog saya? Murni sebenernya untuk saya pribadi. Dengan menyimpan banyak kisah tersebut, mau nggak mau saya harus membaca dan akhirnya sedikit lebih tau tentang kehidupan Islam yang patut diteladani.

Ada yang pernah mendengar nama Kabsyah binti Rafi'?

Kalau belum, mungkin ada yang pernah tau sahabat Rasul bernama Sa'ad bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu?

Nah,, Kabsyah binti Rafi' adalah ibunda dari Sa'ad bin Mu'adz.

Figur ibu hebat ini memiliki nama lengkap Kabsyah binti Rafi’ bin Ubaid bin al-Abjur (Khadrah) bin ‘Auf bin al-Khazraj al-Anshariyah al-Khadariyah. Ibunya bernama Ummur Rabi’ binti Malik bin ‘Amir bin Fuhairah bin Bayyaadhah. Sedangkan suaminya bernama Mu’adz bin Nu’man dari bani Abdul Asyhal. Anak beliau diantaranya adalah Sa’ad, ‘Amr, Iyyas, Aus, ‘Aqrab, dan Ummu Hazzam.

Sa'ad bin Mu'adz ini terkenal jago menunggang kuda dan sangat pemberani. 

Dalam catatan sirah, Kabsyah merupakan di antara pertama yang masuk Islam sejak masuknya Islam di Madinah. Ummu Sa’ad bin Mu’ad RA ini adalah di antara Sahabat wanita yang terdepan dalam kebaikan. Ia adalah wanita awal yang membaiat Rasulullah ﷺ, bersama Ummu ‘Amir binti Yazid bin as-Sakan dan Hawwa’ binti Yazid bin as-Sakan.

Mereka masuk islam melalui perantaraan dakwah Mush'ab Bin Umar yang diutus menjadi duta dakwah Rasulullah SAW ke Madinah. Melalui dakwah yang damai, membuat dua tokoh besar di Madinah, yaitu Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair, meyakini kebenaran Islam.

Masuk Islamnya dua pemuka di Madinah ini segera disambut dan diikuti oleh begitu banyak penduduk Madinah lainnya. Tak terkecuali ibunda Saad yang terkenal berjiwa bersih dan ikhlas. Ia mendapat hidayah masuk Islam.

Sejak Islam datang di Madinah, kediaman Kabsyah menjadi pusat dakwah. Sebagai Muslimah yang gigih Kabsyah aktif menyebarkan tauhid sampai ke pelosok Madinah.

Ketika Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, masyarakat Madinah dan kaum Anshar menyambut dengan gembira. Mereka berlomba-lomba memberi pelayanan terbaik bagi golongan Muhajirin. Kabsyah pun tampil di barisan terdepan.

Ia sedia selalu memberikan pengabdian untuk Rasulullah. Bahkan, ia berharap, selama di Madinah, Rasulullah akan tinggal di rumahnya. Namun, Allah berkehendak lain. Kediaman Abu Ayyub al- Anshari dari Bani Najjar lah yang terpilih.

Sosok Kabsyah sangat layak menjadi panutan para ibu karena senantiasa mendorong agar anak-anaknya berjihad ke medan perang. Mendorong buah hatinya terjun ke medan perang dan menggapai kesyahidan demi menegakkan Islam dan meninggikan kalimat Allah.

Di Perang Badar, kaum Muslimin menang dan putra Ka bsyah bisa kembali dengan selamat. 

Saat itu, putranya Sa'ad didaulat salah seorang anggota Majelis Syuro di Perang Badar.

Tibalah masanya perang Uhud. Saat terjadi kelalahan umat Islam di Perang Uhud, banyak pejuang yang mati syahid. Seusai perang para Muslimah berlarian keluar rumah mencari kabar apakah putra, suami, atau saudara lelakinya syahid atau selamat di peperangan. Ummu Sa'ad pun bergegas mencari kabar tentang keselamatan Rasulullah SAW dan kedua putranya yang turut berangkat berjihad ke medan Uhud, Saad dan Amru. Ternyata, salah satu putra Kabsyah, `Amr bin Mu'adz, termasuk yang gugur di medan Perang Uhud.

Rasulullah SAW bersabda, "Hai Ummu Sa'ad, ada kabar gembira dan sampaikan kabar gembira ini kepada keluarga mereka. Bahwa keluarga mereka yang meninggal dunia, semuanya masuk surga dan keluarga yang ditinggalkan akan mendapat syafaat."

Ummu Sa'ad berkata, Kami rela, ya Rasulullah. Siapa yang akan menangisi mereka setelah ini. Doakanlah, ya Rasulullah, untuk orang-orang yang dtinggalkan.

Lalu, Rasulullah SAW berdoa, "Ya Allah, hilangkanlah kesedihan hati mereka, lenyapkanlah musibah mereka, dan berikanlah ganti yang baik kepada mereka yang ditinggalkan".

Kabsyah menjawab : "Kami rela dan tak akan menangisi mereka."

Saat putranya Amru syahid di perang Uhud, Amru berumur 32 tahun.

Selanjutnya, tibalah perang selanjutnya yaitu perang Khandaq atau perang Ahzab.

Saat itu kaum muslimin dikepung di kota Madinah oleh gabungan besar pasukan Quraisy dan sekutunya. Ummat Islam pun bertahan dengan strategi membangun parit yang diusulkan oleh Salman Al Farisi.

Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya pergi berperang, para wanita, anak-anak, dan orang lanjut usia dikumpulkan di benteng bani Haritsah agar mereka terjaga keselamatannya.

Menurut Aisyah RA, ia melihat Sa'ad bin Muadz lewat dengan baju besi yang kekecilan sehingga tangannya terlihat. 

Aisyah sempat mengingatkan tentang baju Sa'ad yang kekecilan dan membahayakan dirinya. Namun, Kabsyah tidak memperhatikan hal tersebut. Ia begitu mendukung anaknya untuk terjun ke medan jihad.

Sa'ad lalu membawa tombak dan membacakan syair.  Syair itu berbunyi, 

"Aku menetap sejenak untuk menyaksikan pertempuran Hamal, tidak peduli maut menghampiri, jika memang sudah waktunya."

Kabsyah lalu menjawab, "Benar anakku, demi Allah, kamu bisa terlambat." 

Kabsyah berharap Sa'ad segera menyusul dan menemani Rasulullah SAW, tak tertinggal walau sebentar. 

Lalu Sa'ad berjaga bersama pasukan kaum Muslimin di belakang parit. Namun, takdir memang sudah tergariskan. Baju besi Sa'ad yang tidak tertutup sempurna menjadi jalannya untuk meraih syahid.

Sa'ad lantas berdoa, "Ya Allah, jika Engkau belum mengakhiri perang dengan kaum Quraisy, beri aku kesempatan untuk turut ambil bagian. Tidak ada yang lebih aku senangi untuk diperangi selain kaum yang mengganggu dan mendustakan Allah dan Rasul-Nya."

Allah mengabulkan doanya dengan mengirim angin topan dahsyat yang menghancurkan pasukan Quraisy.

Setelah berperang, kondisi Sa'ad semakin parah. 

Saad menemui ajalnya setelah menetapkan keputusan terhadap Bani Quraizhah.

Kesyahidan Sa’ad Bin Muadz mendapat perhatian luar biasa dari Allah. 

Kematiannya sampai mengguncang Arsy Allah.

Ibnu Umar RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, 

"Hamba shalih yang (kematiannya) telah mengguncang Arsy, membuat pintu-pintu langit terbuka, dan 70 ribu malaikat hadir mengiringinya. Padahal, mereka belum pernah turun ke bumi seperti ini sebelumnya, merasa kesempitan kemudian Allah memberinya keleluasaan. Hamba shalih yang dimaksud adalah Sa’ad bin Muadz."(HR.Bukhari Muslim).

Walaupun kesyahidan Sa’ad bin Muadz sudah dijamin oleh Nabi, namun Kabsyah tetap bersedih kehilangan putranya.

Ketika Rasulullah SAW tiba di rumah Sa’ad bin Mu’adz mendengar tangisan Ummu Sa’ad, Rasulullah SAW bersabda, "Setiap perempuan berdusta dengan tangisnya, kecuali Ummu Sa’ad."

Kemudian jasad Sa’ad dibawa keluar. Orang-orang yang mengangkatnya berkata, "Wahai Rasulullah kami tidak pernah mengangkat jenazah seringan ini."

Rasulullah SAW bersabda, "Bagaimana tidak ringan, malaikat telah turun ke bumi begini dan begini. Mereka belum pernah turun dengan cara seperti ini sebelumnya. Dan mereka ikut memikul jenazah bersama kalian."

Dari riwayat ini jelaslah kaum Muslimin bersama 70 ribu malaikat ikut mengangkat jasad Sa'ad sampai ke liang lahat.

Mendengar semua kebaikan dan kelebihan yang diraih putranya Saad, Kabsyah merasa bahagia dengan hati yang seakan melayang-layang di angkasa raya karena putranya telah meraih syahaadah.

Sungguh bahagia ibu yang penyabar dan ridha dengan taqdir Allah SWT. Dia merelakan kepergian putranya yang kedua dengan harapan dapat meraih pahala orang-orang yang bersabar

Masya Allah, dari kisah ini kita belajar tentang seorang Ibu yang begitu bersemangat mendorong anaknya menjemput takdir terbaiknya. Mendorong mereka untuk selalu berada di barisan terdepan memenuhi panggilan jihad dan panggilan dari Allah SWT

Mampukah kita? 😭😭😭

Semoga kita juga mampu meneladani kisah ini. Menjadi orang tua yang terus mendorong putra putrinya menjadi Pejuang di Jalan Allah SWT. Melepaskan mereka untuk belajar, menuntut ilmu, berdakwah dan berjihad di jalanNya.





You Might Also Like

0 comments

Instagram