Diagnosa GERD dan Perubahan Pola Hidup

November 27, 2020


Sejak menikah, rasanya saya jadi orang yang paling malas berolahraga. Alasannya olahraga saya sehari-hari ya mengerjakan pekerjaan rumah. Dengan menyapu, mengepel, mencuci dan memasak aja keringat saya udah lumayan keluar. Nggak perlu lah ditambah olahraga lain lagi. Toh badan saya tergolong masih "langsing" dibanding dengan emak-emak lain.

Sombong kamuh makkkk!!!

Diagnosa GERD

Pola makan saya yang nggak beraturan, pecinta karbo lebay dan makan sesukanya akhirnya membawa penyakit pada tubuh saya. Ya, sudah sejak akhir Februari tahun ini saya sering mengalami gejala sulit bernafas. Harus mengubah posisi agar bisa bernafas dalam dan lega. 

Saya sempat berpikir mungkin saya terinfeksi virus covid-19. Maklum, sejak pandemi segala penyakit sepertinya selalu dihubungkan dengan virus baru ini. Saat radang tenggorokan saya kambuh, mau tidak mau saya memaksakan diri untuk tes swab. Padahal seminggu sebelumnya hasil rapid test yang saya lakukan hasilnya non reaktif.

Alhamdulillah hasil tes swab saya negatif yang artinya insyaAllah saya tidak terinfeksi virus covid-19. Saya berusaha untuk tetap berpikir positif mungkin ada gangguan kecemasan akibat pandemi di hati dan pikiran yang tidak saya sadari dan berefek pada gangguan pernafasan. Dari dulu itu kalo saya sedang sedih menghadapi masalah, saya memang sering jadi sesak nafas.

Tujuh bulan berlalu hingga akhirnya di bulan Oktober saya memberanikan diri untuk memeriksakan diri ke dokter setelah gejala sesak nafas yang saya alami sudah membuat saya sangat tidak nyaman. Alhamdulillah prosedurnya nggak seribet yang saya bayangkan. Pada hari yang sama saya dirujuk ke dokter spesialis paru di rumah sakit berbeda dan langsung mendapat hasil diagnosa.

Diagnosa dokter dari hasil rontgen yang saya lakukan bahwa tidak ada masalah pada paru-paru. Dokter menduga saya terkena GERD, suatu penyakit lambung akut dimana asam lambung naik kembali ke kerongkongan akibat otot sfingter yang bertugas dalam buka tutup klep penghubung antara lambung dan kerongkongan kendur (lemah).

Efeknya saya menjadi sulit bernafas lega seperti kondisi normal. Bahasa awamnya tuh jadi senep gitu kayak abis kebanyakan makan. Jika dibiarkan terus menerus berisiko menjadi kanker esofagus.

Dokter hanya meresepkan obat untuk mengurangi kadar gas dalam lambung dan menyuruh saya untuk mengubah pola makan dan rajin olahraga. Hari itu seperti menjadi titik balik saya untuk bisa berubah mengikuti saran dokter tersebut agar lebih sehat.

Perubahan Pola Hidup

Saya mulai mengurangi porsi makan, terutama nasi dan makanan olahan dari tepung terigu. Diet ini cukup berat karena sejak kecil saya adalah pecinta karbo level akut yang tengah malam pun bisa bangun cuma untuk makan nasi atau mie goreng yang selalu dibawa papa saya sepulang kerja,, duh!!!

Saya berusaha untuk konsisten. Sarapan cukup dengan oatmeal dicampur sedikit susu dan kurma atau buah lainnya + air madu dan chia seed, makan nasi hanya saat makan siang atau makan malam dengan porsi yang sedikit. Kalo kurang kenyang, saya hanya menambahkan sayur atau lauk/protein.

Salah satu tantangan berat juga saat anak saya yang hampir tiap malam minta dibuatkan atau dibelikan makanan sekitar jam setengah 10an. Menjelang dia tidur gaesss... Mamaknya ini sungguh tergoda dengan ajakannya yang aduhai ditambah makanan yang seakan menari-nari ingin masuk ke mulut saya. Terkadang tergoda, tapi diusahakan hanya sedikit saja, wkwk.

Saya juga berusaha untuk mulai rutin berolahraga. Rutin ini yang sulit. Terus terang masih banyak bolongnya. Pagi hari setelah sholat dan tilawah saya usahakan jalan pagi bersama suami atau lari-lari kecil keliling rumah kami yang mungil selama 15 menit. Cukup buat saya ngos-ngosan lalu dilanjutkan dengan olahraga ringan bertahap dari aplikasi gadget.

Sudah hampir sebulan saya jalani pola makan dan olahraga yang dianjurkan walaupun sering bolong-bolong. Hasil positif mulai saya rasakan. Sesak nafas yang sebelumnya sering terasa berangsur-angsur sudah jarang sekali. Kalo pun masih ada hanya sesekali. Alhamdulillah, wa syukurillah.

Ternyata tubuh dengan berat badan relatif ideal seperti saya pun harus dijaga agar tidak sakit. Usia yang tak lagi muda menuntut saya harus lebih menjaga. Ya, saya harus lebih menjaga dengan tetap konsisten berolahraga dan makan sehat secukupnya.

Semoga tetap sehat ya kita semuaaaa....

You Might Also Like

0 comments

Instagram