Rabokki vs Indomie Bangladesh ala Warkop

Saya penggemar drama korea sejak masih SD. Berlanjut ke abege sampai saat ini masih menjadikan nonton drakor sebagai me time yang membuat saya bahagia. Drama korea uwu uwu yang terlihat receh, sebenarnya banyak juga menyimpan pesan-pesan kehidupan. Ditambah lagi oppa-oppa korea yang kulitnya mulus bahkan lebih mulus dari saya sendiri pantat bayi yang ada di iklan, wkwk. Males ahh,, udah main fisikπŸ˜†

Drama korea seakan digunakan masyarakat Korea untuk memperkenalkan budaya di negara mereka. Korea Selatan yang disebut sebagai negeri ginseng memproduksi banyak drama dan film yang populer tidak hanya di negeri sendiri, tapi juga di negara lain seperti Indonesia. Belakangan musik yang digawangi boyband dan girlband asal negara tersebut juga turut serta memperluas korean wave ke berbagai negara bahkan antar benua.

Salah satu budaya yang diperkenalkan melalui korean wave adalah makanan. Bahkan anak saya yang sering menonton mukbang korea dari media sosial selalu ingin mencicipi topokki, ramen pedas, daging bakar, dan lainnya. Memang kalo melihat video orang Korea sedang makan, sepertinya makanan yang mereka makan itu super duper enak. Apalagi bagi saya yang penyuka mie. Ramen dan mie pedas korea menjadi makanan yang wajib coba untuk saya tau dan menilai rasanya. Senikmat ekspresi mereka kah?

Saya pernah membeli topokki atau kue beras instan di salah satu supermarket. Awalnya karena anak saya yang tidak sengaja melihat gambar topokki di salah satu pajangan. Saya coba memasak di rumah dengan saus pedas manis yang sudah sepaket dalam bungkusnya. Hasilnya.... oke lah. Walaupun tidak terlalu cocok di lidah saya, tapi setidaknya saya masih mau mencicipi lagi jika disuguhkan topokki di depan mata. (apalagi yang gratisan)

Kalo bakar-bakar daging ala korea saya suka. Apalagi bersamaan dengan rebus-rebus sayur dan berbagai baso atau biasanya disebut steamboat. Rasanya lebih masuk ke lidah. Bahkan saya sudah beli bumbu tomyam untuk kuah dan pan untuk memanggang daging untuk bisa buat suasana makan ala korea di rumah.

Beberapa hari lalu, saya menerima ajakan makan siang dari teman ke salah satu resto makanan korea yang ada di kota Medan. Namanya Jinjja Chicken. Menurutnya, rasa ayam goreng di Jinjja oke punya. Waktu mencari di internet, foto menu makanan di tempat itu ada yang mirip indomie. Ahh,,, indomie seleraku.. Mana mungkin saya bisa menolak ajakan itu.

Singkat cerita, saya memesan makanan yang gambarnya di menu mirip indomie. Namanya Rabokki. Akankah rasanya senikmat indomie bangladesh di warkop agam langganan saya?

Rabokki


Rabokki atau ramen dicampur topokki adalah gabungan dua makanan khas korea yang cukup banyak ditayangkan di drama korea. Ramen dicampur saus pedas manis khas makanan negeri Hangul itu tampak menggoda dengan campuran topokki, sosis, kue ikan (cake fish), telur rebus dan taburan wijen putih di atasnya.

Saya pun mulai mencicipi satu per satu campurannya. Mulai dari topokki yang rasanya mirip dengan topokki instan yang pernah saya masak di rumah. Lanjut dengan ramen yang sudah menyatu dengan sausnya, lalu irisan sosis, kue ikan dan telur rebus.

Rabokki vs Indomie Bangladesh ala Warkop


Dari hasil mencicip rabokki yang saya lakukan, akhirnya saya bisa menjawab pertanyaan awal saat saya datang ke resto ini. Pilihan saya tetap jatuh pada Indomie Bangladesh ala warkop yang lebih cocok di lidah pribumi seperti saya, wkwk.

Lalu apakah rabokki tidak enak? Hmm,, pada dasarnya enak atau tidak enak adalah soal rasa. Bukan rasa yang pernah ada. Namun ke selera masing-masing orang. Saya kurang cocok dengan saus pedas manis ala korea. Jadi saya kurang menikmati citarasa rabokki yang mungkin bagi masyarakat korea terasa nikmat sekali.

Atau mungkin lidah saya sudah cukup teracuni dengan micin ala indomie?? Bisa jadi,, hehe.. Saya jadi berpikir bagaimana jika saus pedas manis yang ada pada rabokki diganti dengan kuah indomie dengan struktur becek atau jemek-jemek kata orang Medan. Mungkin bisa jadi indomibokki yang citarasanya sudah menyesuaikan dengan kearifan lokal pribumi.

Untuk di Jinjja Chicken, saya cukup merekomendasikan ayam gorengnya. Cukup bisa saya nikmati hingga beberapa potong. Saya juga mencoba jjangmyeon. Tampilannya mirip bihun dengan saus kecap manis yang memang terasa manis di lidah. Lumayan lah untuk tau beberapa makanan yang sering saya lihat saat menonton drama korea.



Jjangmyeon



9 comments

  1. Wih... Mantap nih untuk nemanin nonton drakor.

    ReplyDelete
  2. Bahkan topokki aja aku belum nyobain πŸ˜‚πŸ˜‚

    Masih nyaman dengan ramen dan steamboat aja nih.
    Mau ngajakin suami buat nyobain BBQ ala Korea pun belum terlaksana Mak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. steamboat dan BBQ lebih nyaman di rumah kami mak. Lumayan bisa menghemat biaya makan 3 keluarga, keluarga saya, keluarga adik saya, dan orangtua saya, wkwk

      Delete
  3. awak yang pake bokki bokki tu blom pernah rasa.
    gak tertarik juga buat icip, padahal sering lewat cafe kecil dengan menu korea kalo keluar rumah.
    saya takut gak halal di sini.
    dan mungkin karena umur juga ya, saya lebih tertarik nge go food mie aceh or mie bangladesh juga..
    tapi steamboat awak suka la...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus hati-hati banget kalo di Bali itu ya kak vi. Meskipun banyak makanan yang kayaknya enak, segi halal atau tidaknya benar-benar harus dipastikan.

      Delete
  4. Dua2nya sudah pernah coba dan sama2 enak menurut saya, klo kangen kuah kimchi saya lebih suka makan rabokki karena ada topokki di dalamnya hehe

    ReplyDelete
  5. Nikmt mana yang kau dustakan πŸ€ͺ lihatnya aja udh ngiler gini kak, blum lg langsung makan disana. πŸ˜…πŸ˜…

    ReplyDelete
  6. Beneran deh, kk devi ini bikin ngiler. kalau masih di medan udah ku ajak suami menikmati menu makan di atas. penasaran ma indomibokkinya.

    ReplyDelete